Kau, hanyalah kau
Mawar merah berduri di relungku
Kau indah mewangi dan menusuk dalam dada
Oh.. pilu
Kau, hanyalah kau
Goresan yang nyata di lembar jiwa
Tak bisa ku hapus
Dan tak bisa ku lari dari hati yang pilu
Untuk semua yang terjadi
Antara engkau dan diriku
Tak mungkin ku pungkiri semua
Amarah dan s'gala kecewa
Namun harus kumaafkan
Meski lirih perih membekas
Kukubur semua janji manismu
Dan ku tukar lara yang merobek hatiku
Ini semua untuk sebuah nama
Kutebus semua jatuhkan kecewa
Kan kuhirup semua kenyataan ini
Semua..
2013/07/08
2013/07/04
If (Seandainya) - Rudyard Kipling
Seandainya engkau dapat tetap berkepala dingin meski semua orang di
sekitarmu kacau dan mempersalahkan engkau;
Seandainya engkau dapat percaya pada dirimu sendiri, sunggupun semua
orang meragukan engkau dan masih mau memberi kelonggaran bagi keragu-raguan
mereka;
Seandainya engkau dapat menungu tanpa menjadi jemu. Atau, meski orang
berdusta tentang engkau, engkau tidak mau berdusta pula. Atau, meski dibenci
orang engkau tidak membenci mereka. Namun sikap dan perkataanmu tidak
menganggap diri paling baik atau paling bijaksana;
Seandainya engkau mempunyai cita-cita yang tinggi, tetapi tidak
membiarkan dirimu dikuasai oleh muluknya cita-cita itu;
Seandainya engkau dapat berpikir, tetapi tidak mengukuhi pikiran sebagi
sasaran;
Seandainya engkau dapat tenang menghadapi kemenangan atapun kehancuran
dan memperlakukan kedua penipu itu sama saja;
Seandainya engkau dapat tahan mendengar kebenaran yang telah kau
ucapkan diputarbalikkan oleh orang-orang jahat untuk dijadikan perangkap bagi
orang-orang bodoh, atau melihat apa yang kau kasihi dengan segenap jiwamu
dipatahkan orang, lalu engkau membungkuk untuk memungut dan memperbaikinya
dengan alat-alat yang sudah usang;
Seandainya semua kemenanganmu kau jadikan satu tumpukan... lalu engkau
mempertaruhkannya dengan satu kali membuang undi. Kemudian engkau kalah dan
harus mulai lagi dari permulaan, namun tidak pernah mengucapkan satu katapun
tentang kekalahan tadi;
Seandainya engkau dapat mengerahkan otot-otot, syaraf dan hatimu yang
sudah lama tiada, untuk mencapai tujuanmu. Dan dengan demikian tetap tabah
walaupun padamu tak ada suatu apa pun lagi kecuali kemauan yang berkata kepada
semua; “Tabahlah”
Seandainya engkau dapat berbicara dengan orang banyak dan tetap rendah
hati, atau berjalan dengan raja-raja namun
tidak kehilangan hubungan dengan rakyat jelata;
Seandainya tidak ada perbuatan musuh maupun sahabat yang dapat
menyakiti hatimu;
Seandainya engkau menghargai semua orang, tetapi tidak sampai
berlebihan;
Seandainya menit yang tidak kenal ampun dapat diisi dengan enam puluh
detik lari jarak jauh;
Milikmulah bumi serta segala isinya,
Dan lebih daripada itu – engkau akan menjadi seorang yang tangguh..
Kopi Asin
Dia
bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan.
Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya
seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat
pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya.
Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau
mengecewakannya.
Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki begitu
gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat
tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis
dalam hatinya.
Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam.
Saya ingin membubuhkannya dalam kopi saya."
Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi
merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta
meminum kopinya. Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu
kepadanya, "Kebiasaanmu kok sangat aneh?". "Saat aku masih kecil, aku
tinggal di dekat laut. Aku sangat suka bermain-main di laut, di mana
aku bisa merasakan laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini",
jawab si laki-laki. "Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi
teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan
kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana",
lanjutnya dengan mata berlinang.
Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati.
Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan
kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai
dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa
tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai
pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa
kecilnya, keluarganya...
Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan
awal yang indah dari kisah cinta mereka.
Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah
laki-laki idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh
perhatian... pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan
begitu saja. Untung saja ada kopi asin !
Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah
dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan
suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena
ia tahu itulah kesukaan suaminya.
Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan
sepucuk surat bagi istrinya:
"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang
hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu --- tentang kopi asin.
Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu
itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan
garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka
aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah
menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang
sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku,
tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk
tidak menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak
ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu:
Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu
minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal
atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah menyesali
semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam
hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi,
aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun
aku harus minum kopi asin lagi."
Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu.
Suatu hari seseorang menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab,
"Rasanya begitu manis."
Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya
seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat
pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya.
Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau
mengecewakannya.
Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki begitu
gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat
tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis
dalam hatinya.
Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam.
Saya ingin membubuhkannya dalam kopi saya."
Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi
merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta
meminum kopinya. Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu
kepadanya, "Kebiasaanmu kok sangat aneh?". "Saat aku masih kecil, aku
tinggal di dekat laut. Aku sangat suka bermain-main di laut, di mana
aku bisa merasakan laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini",
jawab si laki-laki. "Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi
teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan
kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana",
lanjutnya dengan mata berlinang.
Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati.
Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan
kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai
dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa
tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai
pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa
kecilnya, keluarganya...
Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan
awal yang indah dari kisah cinta mereka.
Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah
laki-laki idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh
perhatian... pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan
begitu saja. Untung saja ada kopi asin !
Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah
dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan
suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena
ia tahu itulah kesukaan suaminya.
Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan
sepucuk surat bagi istrinya:
"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang
hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu --- tentang kopi asin.
Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu
itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan
garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka
aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah
menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang
sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku,
tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk
tidak menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak
ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu:
Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu
minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal
atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah menyesali
semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam
hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi,
aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun
aku harus minum kopi asin lagi."
Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu.
Suatu hari seseorang menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab,
"Rasanya begitu manis."
2013/06/24
Alamat Verfikasi Data Guru Terbaru (Baru Ketemu Tadi)
Hhmm.. Sudah libur sekolah ternyata. Tapi sampai sekarang dana sertifikasi si Mama belum cair.
Di satu sisi, proses pencairan dana sertifikasi guru dengan cara mengirimkan data guru (plus data sekolah dan murid melalui aplikasi dapodik) ada gunanya (yang entah apa gunanya. Tapi gak mungkin juga itu 'diciptakan' hanya buat guru-guru di desa makin rempong).
Di sisi lain, tidak semua operator sekolah "mampu" mengisi data dapodik dengan benar. Pada akhirnya, itu menjadi "kerugian" bagi temannya di sekolahnya yang bersangkutan karena hasil verifikasi data guru yang dicek secara online (juga), ada banyak informasi yang dinilai tidak valid. Akhirnya, dana sertifikasinya pun tidak cair (padahal sudah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Benar-benar TANPA, ya..).
Kalau di data si Mama sih, yang bermasalah hanya di Rincian Jam Mengajar. Kata si Mama menurut KTSP yang berlaku di Kecamatan kami ini, Jumlah Jam Mengajar (JJM) seorang wali kelas "anu" adalah sekian jam. Aku sudah isi dengan benar. Beberapa hari kemudian cek verifikasi data gutu, ternyata "tidak normal." Lalu kucari testimoni orang menyangkut JJM. Jumlahnya ternyata beda dengan yang si Mama bilang. Kuperbaiki, tetap saja. Hasilnya tidak valid. (Catt: Kepseknya sudah setuju saya jadi "OS" mengingat akses ke jaringan internet lebih mudah -biasaa,, fasilitas kantor-).
Entah apa lagi yang harus kulakukan. Kalau diperbaiki pada saat sudah libur begini, apa masih bisa? Secara kan semesternya sudah lewat. :/
Well, sesuai judul, ini alamat terbaru kalau mau cek: http://223.27.144.195:8082/info.php
atau http://223.27.144.195:8083/info.php
Btw, PHP di akhir alamat link-nya itu artinya apa? Atau jangan-jangan Pemberi Harapan Palsu? *abaikan*
Di satu sisi, proses pencairan dana sertifikasi guru dengan cara mengirimkan data guru (plus data sekolah dan murid melalui aplikasi dapodik) ada gunanya (yang entah apa gunanya. Tapi gak mungkin juga itu 'diciptakan' hanya buat guru-guru di desa makin rempong).
Di sisi lain, tidak semua operator sekolah "mampu" mengisi data dapodik dengan benar. Pada akhirnya, itu menjadi "kerugian" bagi temannya di sekolahnya yang bersangkutan karena hasil verifikasi data guru yang dicek secara online (juga), ada banyak informasi yang dinilai tidak valid. Akhirnya, dana sertifikasinya pun tidak cair (padahal sudah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Benar-benar TANPA, ya..).
Kalau di data si Mama sih, yang bermasalah hanya di Rincian Jam Mengajar. Kata si Mama menurut KTSP yang berlaku di Kecamatan kami ini, Jumlah Jam Mengajar (JJM) seorang wali kelas "anu" adalah sekian jam. Aku sudah isi dengan benar. Beberapa hari kemudian cek verifikasi data gutu, ternyata "tidak normal." Lalu kucari testimoni orang menyangkut JJM. Jumlahnya ternyata beda dengan yang si Mama bilang. Kuperbaiki, tetap saja. Hasilnya tidak valid. (Catt: Kepseknya sudah setuju saya jadi "OS" mengingat akses ke jaringan internet lebih mudah -biasaa,, fasilitas kantor-).
Entah apa lagi yang harus kulakukan. Kalau diperbaiki pada saat sudah libur begini, apa masih bisa? Secara kan semesternya sudah lewat. :/
Well, sesuai judul, ini alamat terbaru kalau mau cek: http://223.27.144.195:8082/info.php
atau http://223.27.144.195:8083/info.php
Btw, PHP di akhir alamat link-nya itu artinya apa? Atau jangan-jangan Pemberi Harapan Palsu? *abaikan*
2013/06/14
Novita Dewi / Dewi Marfa / Dewi Marpaung - Who's Laughing Now
S'perti tak mungkin tapi nyatanya bisa
Kau pikir kau tak kan terganti
Dengan gayamu yang kepedean
Mengira ku tak kan bisa move on
Dulu memang kita s'perti tak terpisahkan
S'rasa dunia ini milik berdua
Kau bilang cinta dan bla..bla..bla..bla..
Aku percaya s'mua rayamu
Namun s'karang berbeda
Ku bukan lagi orang yang sama
Naif dan sentimentel
No more..no more..no more..
Reff:
Well, who's laughing now, who's move on now
Ku bahagia jalani hidupku s'karang
Kau cemburu, kau terluka
Akhinya ku terlepas dari derita
ooo...ooo..ooo...ooo..
Kau minta kembali ku masih tak percaya
'Coz I can finally say "no.. no.. no.."
S'karang tak ada lagi rasa yang tersisa untuk kuberikan kepadamu
Kenangan yang dulu biarlah oh biarlah berlalu
Bersama kepahitan yang pernah kau tawarkan
Back to Reff
Kau pikir kau tak kan terganti
Dengan gayamu yang kepedean
Mengira ku tak kan bisa move on
Dulu memang kita s'perti tak terpisahkan
S'rasa dunia ini milik berdua
Kau bilang cinta dan bla..bla..bla..bla..
Aku percaya s'mua rayamu
Namun s'karang berbeda
Ku bukan lagi orang yang sama
Naif dan sentimentel
No more..no more..no more..
Reff:
Well, who's laughing now, who's move on now
Ku bahagia jalani hidupku s'karang
Kau cemburu, kau terluka
Akhinya ku terlepas dari derita
ooo...ooo..ooo...ooo..
Kau minta kembali ku masih tak percaya
'Coz I can finally say "no.. no.. no.."
S'karang tak ada lagi rasa yang tersisa untuk kuberikan kepadamu
Kenangan yang dulu biarlah oh biarlah berlalu
Bersama kepahitan yang pernah kau tawarkan
Back to Reff
Novita Dewi / Dewi Marfa / Dewi Marpaung - Jejak Luka
Berdiri aku disini
Bawa sebuah rindu yang tak bertepi
Dan s'lalu hadir di hari-hari sepiku
Kembali ku menangisi
Akhir kisah ini sejak kau pergi dan tak 'da lagi ruang di hati
Dan mencari yang tak pasti
Sepi gelisah tanpamu
Tanpa kehadiranmu
Apakah kau tahu luka ini membunuhku
Mungkinkah kau mengerti
Mungkinkah kau kan kembali padaku menyapu jejak lukaku
Kau tlah gunakan peluh dalam diri pedih dalam hati
Pahitnya rasa kehilangan
Dalam sedih tawa dalam luka
Aku t'lah rasa aku tak mampu
Dan ku tak mau kehilanganmu
Telah kucoba hidup tanpamu
Namun yang ada bisa mati akalku
Tanpamu, hadirmu, dekatmu
Tak henti aku berharap hadirmu
Kembali mengisi hari dan hapus pedih di dalam kesepianku
Sungguh ku tak dapat ganti rasaku padamu
Yang telah hadir selama ini dalam hidupku
Yang mengisi s'tiap waktuku
Mungkinkah dapat kau mengerti
Walau ku tahu tiada lagi kau mengisi hati dan menghapus jejak luka hati
Yang telah kau gunakan peluh dalam diri pedih dalam hati
Pahitnya rasa kehilangan
Dalam sedih tawa dalam luka
Aku t'lah rasa aku tak mampu
Dan ku tak mau kehilanganmu
Telah kucoba hidup tanpamu
Namun yang ada bisa mati akalku
Tanpamu, hadirmu, dekatmu
Tanpamu t'lah kucoba
Hidupku resah
Bawa sebuah rindu yang tak bertepi
Dan s'lalu hadir di hari-hari sepiku
Kembali ku menangisi
Akhir kisah ini sejak kau pergi dan tak 'da lagi ruang di hati
Dan mencari yang tak pasti
Sepi gelisah tanpamu
Tanpa kehadiranmu
Apakah kau tahu luka ini membunuhku
Mungkinkah kau mengerti
Mungkinkah kau kan kembali padaku menyapu jejak lukaku
Kau tlah gunakan peluh dalam diri pedih dalam hati
Pahitnya rasa kehilangan
Dalam sedih tawa dalam luka
Aku t'lah rasa aku tak mampu
Dan ku tak mau kehilanganmu
Telah kucoba hidup tanpamu
Namun yang ada bisa mati akalku
Tanpamu, hadirmu, dekatmu
Tak henti aku berharap hadirmu
Kembali mengisi hari dan hapus pedih di dalam kesepianku
Sungguh ku tak dapat ganti rasaku padamu
Yang telah hadir selama ini dalam hidupku
Yang mengisi s'tiap waktuku
Mungkinkah dapat kau mengerti
Walau ku tahu tiada lagi kau mengisi hati dan menghapus jejak luka hati
Yang telah kau gunakan peluh dalam diri pedih dalam hati
Pahitnya rasa kehilangan
Dalam sedih tawa dalam luka
Aku t'lah rasa aku tak mampu
Dan ku tak mau kehilanganmu
Telah kucoba hidup tanpamu
Namun yang ada bisa mati akalku
Tanpamu, hadirmu, dekatmu
Tanpamu t'lah kucoba
Hidupku resah
Caffein - Luka Hati
Masih kubersamamu tapi hati ini t’lah menjauh
Hapus semua cintaku dirimu tak sejalan denganku
Mengapa bukan diriku yang engkau miliki
Kau tinggalkan
Reff:
Luka hati ini kulalui
Biarkan dirimu bersamanya
Mampu diri ini lupakan cintamu
Meskipun rindu temani diriku
Mungkin hanyalah dia yang mengerti akan semua inginmu
Hapus semua cintaku dirimu tak sejalan denganku
Mengapa bukan diriku yang engkau miliki
Kau tinggalkan
Back to Reff
Langganan:
Postingan (Atom)
